Tampilkan postingan dengan label khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khazanah. Tampilkan semua postingan

Bidadari Surga





Wahai, para suami, istri yang menemani kita sesungguhnya adalah bidadari yang diturunkan untuk menjadi pendamping kita di dunia. Ia juga yang kelak menemani kita saat menikmati kebahagiaan surga di akhirat.

Mari, kita kenali sifat-sifat istri yang memesona ini. Imam Ath-Thabrany mengisahkan sebuah hadis dari Ummu Salamah. "Wahai, Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli?" Beliau menjawab, "Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, serta rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar."

"Lalu, bagaimana tentang firman Allah, 'Laksana mutiara yang tersimpan baik'." (QS Alwaqi'ah [56]: 23). Jawabnya, "Kebeningannya seperti mutiara di kedalaman lautan yang tidak pernah tersentuh tangan manusia."

"Jelaskan lagi kepadaku firman Allah, 'Di dalam surga-surga itu, ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan lagi cantik-cantik'." (QS Arrahman [55]: 70). Beliau menjawab, "Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita."

Saya berkata lagi, "Jelaskanlah firman Allah, 'Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik'." (QS Ashshaffat [37]: 49). Beliau menjawab, "Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar."

"Manakah yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari yang bermata jeli?" Rasulullah berkata, "Wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak dengan apa yang tak tampak."

"Karena apa wanita dunia lebih utama dari mereka?" Beliau menjawab, "Karena, shalat, puasa, dan ibadah mereka. Sehingga, Allah meletakkan cahaya di wajah mereka. Tubuh mereka seperti kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas."

Sungguh indah gambaran Nabi SAW tentang bidadari. Namun, lebih indah lagi penjelasannya tentang wanita di dunia yang taat kepada Allah. Hanya ada dua syarat untuk menjadi wanita mulia seperti itu. Pertama, taat kepada Allah dan rasul-Nya. kedua, taat kepada suami.

Yang pertama berarti mencintai Allah dan Rasulullah melebihi apa pun. Yang diperintahkan ia kerjakan dan yang dilarang ia tinggalkan. Kepada orang tua ia berbakti dan dengan sesama mau hidup berbagi (sedekah).

Sementara itu, taat kepada suami di antaranya tampil menyenangkan di hadapan suami serta menjaga kehormatan diri, anak-anak, dan harta suami. Ia juga tidak membantah suami dalam kebenaran, tidak jalan dan berkhalwat dengan lelaki yang bukan mahram, serta segalanya selalu dalam kebaikan. Dialah bidadari surga itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Wujud dan Pengetahuan

Bahasan kali ini adalah wujud dan pengetahuan (being and knowledge). Apa yang dimaksud dengan wujud (being)? Kata wujud berasal dari bahasa arab wajada. Yang kita bicarakan wujud di sini adalah wujud dalam pengertian yang sangat dasar.

Wujud dalam dirinya sendiri tidak dapat diketahui. Yang kita anggap wujud ini tidak bisa kita definisikan. Sedangkan kita yang wujud ini sebenarnya hanya akibat dari wujud yang sesungguhnya. Ini sulit kita pahami, karena vocabulary kita tidak bisa menjangkau aspek spiritual ini. Ini satu bukti betapa timpangnya perhatian kita terhadap persoalan ini. Bukan kesalahan kita untuk tidak dapat memahami persoalan ini, tetapi fasilitas yang ada sangat terbatas untuk menjelaskannya.

Ada dua hal yang perlu dijelaskan di sini. Pertama, penyamaan itu lebih dekat pada kesatuan. Kita meminjam bahasa Taoisme, karena inilah yang lebih mudah untuk dapat menjelaskannya. Penyamaan dan perbedaan adalah dua hal yang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan.

Kedua, wujud dan hakikat. Kata wujud adalah bahasa Arab dan hakikat juga bahasa Arab, tetapi keduanya sudah menjadi bahasa Indonesia. Wujud adalah eksistensi sedangkan hakikat adalah realitas.

Wujud dalam dirinya sendiri tidak dapat didefiniskan. Yang sesungguhnya berwujud itu tidak dapat kelihatan. Wujud hanya dapat diketahui oleh entitas lain. Wujud hampir sama dengan penjelasan kita terhadap cahaya. Jika kita melihat cahaya, dan kita pastikan cahaya itu ada. Akan tetapi, yang terlihat di situ adalah benda-benda yang tersingkap oleh cahaya.

Jadi, wujud itu sesuatu yang tidak tampak pada dirinya sendiri, tetapi kehadirannya menyebabkan wujudnya objek-objek yang lain. Yang tampak itu objeknya, bukan cahayanya itu sendiri. Wujudnya tidak tampak, tetapi memungkinkan kita untuk melihat wujud-wujud selainnya. Jadi, wujud itu dapat kita ibaratkan dengan cahaya. Hakikat wujud yang sesungguhnya itu sendiri tidak terlihat. Yang terlihat ada ini bukan hakikat wujud, sebagai hakikat wujudnya adalah Allah SWT.

Dulu, ilmu semacam ini sangat dirahasiakan. Jika terus dirahasiakan, maka kapan generasi kita akan mengetahuinya. Oleh karenanya, kita jangan takut menjelaskan ilmu semacam ini. Sebab, kalau kita niat belajar kemudian salah maka akan diluruskan dan tetap mendapatkan pahala dari sisi Allah SWT. Orang berijtihad kalau salah dapat satu pahala dan kalau benar dapat dua pahala.

Tuhan Mahatahu akan kelemahan kita. Oleh karena itu, kita selalu memperbaiki iman kita dengan kalimah thayyibah. Hanya orang yang merasa sangat dekat dengan Tuhan mau menanyakan pribadi Tuhan. Tidak mungkin menanyakan hal-hal pribadi kepada orang yang tidak dekat. Seperti halnya Nabi Ibrahim AS menanyakan hakikat Tuhan. Begitu juga dengan Nabi Musa AS. Oleh karena itu, awalilah kegiatan semacam ini dengan memohon bimbingan-Nya, ihdin al-shirt al-mustaqim.

Dikatakan bahwa wujud bagaikan cahaya, tetapi sesungguhnya tidak sama dengan cahaya. Ini hanya perumpamaan saja untuk mendekatkan kita kepada pemahaman ini. Semakin terang sebuah cahaya semakin sulit kita memahami dan menangkapnya. Wujud tidak bisa didefinisikan dan diketahui. Ia identik dengan essensi ilahi. Wujud merupakan jumlah keseluruhan dari segala sesautu yang diciptakan. Pulpen, komputer dan LCD, misalnya, apakah itu wujud atau benda? Semuanya itu adalah benda yang merupakan akibat dari perwujudan itu.

Saya menggunakan buku-buku karya Ibn 'Araby untuk menjelaskan mengenai konsep wujud ini. Dikatakan, bahwa "Allah sebagai yang satu dan yang banyak." Dari mana datangnya yang banyak? Datangnya yang banyak itu dari yang satu. Allah mengetahui segala sesuatu.

Pengatahuan Allah yang berbilang-bilang ini adalah sumber manifestasi makhluk. Banyak ilmu dan banyak nama, tetapi hanya satu Allah SWT. Objek yang dilihat oleh mata ini sangat banyak, berbilang dan berwarna, tetapi pada hakikatnya adalah manifestasi dari yang wujud. Allah Swt Maha Tunggal atau Maha Esa. Di mana Allah dan di mana makhluknya? Allah tidaklah tergantung kepada makhluk, dan yang tergantung adalah kita. Allah adalah adalah bagaikan Yan dan kita dan seluruh makhluknya adalah Yin. Meskipun ilmu Tuhan bermacam-macam tetapi kalau disedot kembali menjadi satu kepada sumbernya.

Jangan dipertentangkan bahwa Allah SWT Maha Esa sedangkan makhluknya berbilang. "comprehensifness" itu penyatuan antara satu dengan yang lain, sedangkan "all-comprehensifness" adalah keseluruhan dari penyatuan antara yang satu dengan yang lain.
nbsp;nbsp;nbsp;
Ketika melihat sifat maskulinitas Tuhan maka kita akan melukiskan bahwa Allah Maha berbeda dengan kita. Sedangkan kalau melihat sifat-sifat Allah yang feminin maka akan ada kesamaan dengan kita. Contoh lain, kriteria apa yang bisa kita gunakan untuk mengukur bahwa sesuatu itu baik atau buruk? Kambing misalnya, jika ia (anaka kambing) berhubungan badan dengan induknya, apakah baik atau buruk, apa salah atau benar? Bagi penggembala kambing itu baik, karena sebentar lagi populasi kambingnya bertambah. Akan tetapi, kalau perbuatan itu dilakukan manusia, misalnya dilakukan seorang anak kepada ibunya, kita bisa memastikan perbuatan itu buruk dan tidak baik, karena ada norma khusus yang kita gunakan untuk menilainya.

Jadi, tidak semua yang berbeda itu salah atau tidak semua yang sama itu baik, demikian pula sebaliknya. Tergantung nilai dan norma apa yang kita gunakan untuk mengukurnya.

Satu sisi Allah SWT Mahategar, Mahakuat, tetapi pada sisi lain Mahalembut. Bagi Allah itu, tidak ada masalah. Oleh karena itu, kita perlu untuk mengategorikan nama-nama ketakterbandingan Tuhan, seperti al-Jalal (Maha Agung), al-Qahhar (Maha Pemaksa), al-Muntaqim (Maha Penyiksa), al-Jabbar (Maha Memaksa), al-Quddus (Maha Suci), dan lainnya.

Selain itu, kita perlu mengidentifikasi nama-nama keserupaan, seperti al-Jamal (Maha Indah), al-Lathif (Maha Lembut), al-Rahman (Maha Kasih Sayang), al-'Afwu (Maha Pemaaf), al-Ghafur (Maha Pengampun), al-Halim (Maha Penyantun), al-Sabr (Maha Sabar), dan lainnya. Identifikasi semacam ini memiliki implikasi dalam kepribadian kita sebagai hamba dari adanya kedua sisi sifat Tuhan ini.

Pendekatan kita kepada Allah ada dua model yang saling berkontribusi. Pertama, dengan pendekatan fiqh, substansi yang menonjol dalam menyembah Allah SWT adalah ketakterjangkauan Tuhan. Sebab yang dikedepankan dalam fiqh adalah aspek jalliyah (keagungan/ketakterbandingan) Tuhan, bukan aspek jamliyah-Nya (keindahan/keserupaan).

Di antara imbas pendekatan fiqh bagi kita adalah takut kepada Allah. Jika ketakutan yang dominan, maka kita harus taat dan tunduk. Ini tidak salah, karena memang fiqh seperti itu.

Pendekatan kedua yaitu pendekatan tasawwuf. Yang ditekankan dalam tasawuf adalah bukan objek Tuhan sebagai sesuatu yang tak terjangkau (transendent) melainkan sebagai sesuatu yang dekat (immanent). Dengan demikian, yang terjadi kemudian adalah kecintaan kita kepada Allah. Dengan kedekatan ini, efek selanjutnya adalah kecintaan dan kepasrahan total kepada Allah SWT.

Kedua pendekatan ini dapat kita lakukan, karena banyak lorong menuju Allah. Orang yang menonjolkan aspek jamliyah Tuhan dapat melakukan ketaatan dengan ketulusan dan kepasrahan secara otomatis. Sedangkan orang yang lebih mengedepankan aspek jalliyah Tuhan melakukan ketaatan dengan keterpaksaan dan keberatan.

Orang yang telah mampu menekankan aspek jamliyah Tuhan akan menjadikan ibadah sebagai rutinitas yang otomatis, bagaikan matahari dan rembulan yang berjalan tepat waktu tanpa berkurang atau lebih.

Yang terbaik tentunya ialah kombinasinbsp; kedua model pendekatan itu dan model ini banyak dilakukan oleh para sufi. Lihat misalnya Al-Gazali di dalam kitab monumentalnya, Ihya 'Ulum al-Din. Ketika ia menjelaskan Rukun Islam, ia membahasnya ke dalam dua aspek, yaitu aspek fikih (eksoterik) dan aspek sufistik (esoterik).Shalat, puasa, zakat, dan haji memiliki nuansa fisik lahiriyah dan nuansa batin.

Ibn 'Atha'illah melukiskannya dengan baik: "Barang siapa yang berfikih tanpa bertasawuf maka ia fasih, barang siapa yang bertasawuf tanpa berfikih maka ia zindiq, dan barang siapa yang menggabungkan keduanya maka ia mencapai hakekat". Wallahu A'lam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Membaca Tanda Alam dalam Khazanah Islam




Perahu penyelamat di kapal induk telah digunakan para pelaut Muslim sejak abad kesembilan.

Bercengkerama dengan alam telah melahirkan kemahiran tersendiri bagi umat Islam. Para ilmuwan Muslim kemudian juga memiliki ilmu pengetahuan mengenai alam semesta. Misalnya, menentukan ke mana arah angin dan memperkirakan terjadinya badai.

Ilmu pengetahuan ini, yang kemudian disebut meteorologi, menularkan manfaat bagi para pelaut Muslim, misalnya, dalam upaya mereka mengarungi ganasnya samudra dan menentukan waktu harus melaut. Pun, masyarakat umum dalam mengantisipasi terjadinya badai.

Ilmuwan Muslim mengenal beragam jenis badai berbahaya dan dampak yang ditimbulkannya. Dan tentunya, mereka perlu memperkirakan kedatangan badai tersebut. Filolog Arab pada awal masa Islam menyebutkan ada sejumlah karya ilmuwan Muslim mengenai bidang ini.

Dalam sebuah risalah disebutkan terdapat 100 kata yang menguraikan tentang jenis angin menurut dampaknya, kualitas, dan arah angin tersebut. Termasuk, angin ribut dan topan. Kian banyak buku tentang meteorologi seiring penerjemahan buku-buku Yunani.

Pada abad kesembilan, ilmuwan Muslim, Al-Kindi, menghasilkan sebuah karya yang terkait dengan masalah meteorologi. Bahkan, ia dikenal sebagai ilmuwan pertama yang memperkenalkan percobaan dalam ilmu bumi, termasuk meteorologi.

Al-Kindi juga menulis buku berjudul Risala fi l-Illa al-Failali l-Madd wa l-Fazr. Salah satu hal yang ia jelaskan di dalam bukunya adalah soal angin. Menurut dia, angin terkait dengan pergerakan udara, termasuk ke tempat-tempat lebih rendah.

Selain itu, Al-Kindi juga melakukan percobaan di laboratoriumnya. Dalam percobaan itu, Al-Kindi menemukan bagaimana udara yang sangat dingin berubah wujud menjadi air. Dia mengambil botol kaca lalu memenuhi botol tersebut dengan salju dan menutupinya secara rapat.

Lalu, pada permukaan botol tersebut udara berubah menjadi air, seperti botolnya mengeluarkan titik-titik air. Melalui percobaan itu, ia pun meluruskan pandangan sejumlah orang. Ia mengatakan, air atau salju tak dapat melewati kaca.

Pada abad ke-12 dan ke-13, Al-Tifashi yang hidup antara 1184 hingga 1253, mengikuti jejak Al-Kindi. Ia membuat definisi tentang angin ribut, yaitu angin yang mengembangkan kekuatannya dan naik ke atmosfer. Ada pula, ilmuwan Muslim bernama Al-Qazwini (1203-1283).

Al-Qazwini juga mengulang ide Al-Kindi. Ia membuat sebuah definisi yang hampir sama dengan apa yang telah dinyatakan Al-Tifashi. Namun, ia memberikan definisi yang lebih perinci. Pengetahuan tentang angin kemudian dikembangkan lebih jauh.

Langkah ini dilakukan oleh Ahmed Ibn Majid, yang berasal dari Ras al-Khaymah yang sekarang lebih dikenal Uni Emirat Arab dan Sulayman al-Mahri dari Yaman. Kedua orang tersebut merupakan navigator kapal dan pengetahuan tentang angin sangat berguna bagi pekerjaan mereka.

Sebagai navigator kapal, mereka memanfaatkan ilmu tersebut dalam menjalankan profesinya. Dalam pembicaraannya mengenai topan, Al-Mahri mengatakan, sangat perlu seorang navigator untuk tahu banyak tentang topan dan tanda-tanda datangnya.

Tanda-tanda yang biasanya menyertai datangnya topan adalah meningginya temperatur air laut, hujan lebat, dan perubahan angin yang begitu tiba-tiba. Sedangkan Al-Mahri, menyebut ada lima jenis topan di Samudra India yang biasa menerjang kapal yang berlayar.

Salah satu jenis topan yang ada dalam daftar Al-Mahri adalah topan 40. Ini merupakan topan urutan ketiga dalam daftarnya. Menurut dia, topan jenis ini biasanya menghantam Laut Hurmuz. Ibn Majid juga berbicara mengenai topan.

Menurut Ibn Majid, ada topan yang menerjang laut dalam beberapa tahun dan hilang pada beberapa tahun lainnya. Topan memiliki tanda-tanda saat datang. Di antaranya adalah meningkatnya debu di daratan dan laut.

Tanda lainnya, petir dan awan menutupi langit. Ini terjadi saat langit tertutup awan yang warnanya seperti warna kulit sapi. Setelah mengetahui hal ihwal angin, navigator menentukan langkah yang harus dipersiapkan sebelum dan saat berlayar.

Seorang navigator akan meminta sejumlah awak kapal untuk meneliti lambung kapal saat masih berada di daratan. Ini untuk meneliti apakah ada bahan pembuat kapal yang tak memenuhi standar dan menuliskannya.

Tak hanya itu, para awak kapal juga diminta untuk terus memeriksa peralatan berlayar setiap saat. Ini perlu dilakukan agar semua peralatan dalam keadaan baik dan bisa segera diperbaiki bila terjadi kerusakan.

Selain itu, ada langkah lain yang juga perlu dilakukan, yaitu mempertimbangkan antara kapasitas kapal dengan beban kargo dan muatan yang dibawa penumpang ke dalam kapal. Bahkan, ada urutan siapa yang bertanggung jawab jika prosedur ini dilanggar.

Pertama yang bertanggung jawab adalah kapten kapal. Selanjutnya, pemilik barang atau para pedagang yang biasanya membawa muatan dalam kapal. Ini jika mereka telah diingatkan mengenai kelebihan beban muatan.

Pemilik kapal juga dimintai pertanggungjawabannya jika terbukti terlibat dalam pelanggaran tersebut. Ada pula langkah yang biasa direkomendasikan kepada para navigator untuk menghindari hantaman topan, yaitu kembali ke pelabuhan terdekat.

Kasus seperti ini pernah terjadi pada Sabtu, 13 November 1518. Saat itu, sejumlah kapal yang meninggalkan Alexandria menuju Istanbul, terpaksa harus kembali ke pelabuhan Rosetta karena adanya topan yang menghadang mereka.

Membawa perahu penyelamat seperti yang lazim ada pada kapal-kapal besar di masa sekarang, telah dilakukan pada masa itu. Ini merupakan langkah kehati-hatian dalam menghadapi badai yang terjadi di tengah samudra.

Perahu penyelamat yang ditempatkan di kapal induk, telah diketahui dan digunakan oleh para navigator Muslim dan Arab selama masa periode klasik Islam, yaitu pada abad kesembilan hingga ke-13.

Biasanya perahu-perahu tersebut digunakan ketika kapal induk tak dapat lagi menahan hantaman badai. Selain itu, perahu itu juga bisa digunakan untuk perjalanan laut jarak pendek saat musim angin tiba.

MENYINGKAP RAHASIA HUJAN

Tak hanya persoalan angin yang telah menarik perhatian ilmuwan Muslim. Gejala alam lainnya juga menarik perhatian mereka. Pada abad ke-9, ada Ibnu Doraid Al-Azdi yang me nulis sebuah buku yang dalam terjemahan bahasa Inggris berju dul Description of Rain and Clouds.

Dalam buku yang berisi 27 bab itu, Ibnu Doraid memberikan penjelasan ilmiah tentang hujan dan awan. Selain itu, buku ini juga membahas perkiraan cuaca; deskripsi awan, baik corak maupun warna mereka; gerakan awan; akumulasi; serta penebalan dan perubahan bentuk awan.

Ibnu Doraid pun memberi gambaran mengenai jenis curah hujan dan efeknya terhadap tanah dan sumber daya air tanah. Seperti dikutip muslimheritage, ia memberikan penjelasan mengenai Al-Hamma’a dan Al-Hawwa’a atau awan hitam yang menjadi merah.

Selain hujan dan awan, Ibnu Doraid menjelaskan kilat. Ia membagi kilat berdasarkan intensitas cahayanya. Al-hafo merupakan kilat yang paling lemah, Al-wamed bentuknya mirip senyum kecil, dan Al-wallaf adalah kilat yang menyerang dua kali.

Dengan mengetahui gerak dan penyebaran awan serta intensitas kilat, Ibnu Doraid memperkirakan jumlah dan tingkat kelebatan hujan. Ia menjelaskan pula jenis intensitas hujan, antara lain Ghait Thare atau hujan deras.

Seabad kemudian, Ibnu Wahshiyyahe, seorang ahli di bidang pertanian dari Irak, menulis buku berjudul Kitab al-Falaha al-Nabatiya. Buku ini berisi pembahasan mengenai perkiraan cuaca, perubahan atmosfer, dan tanda turunnya hujan berdasar fase bulan.

Dengan adanya perkiraan cuaca, kemudian diketahui awal musim tanam secara tepat. Ini melahirkan kemajuan yang berarti bagi umat Islam dalam bidang pertanian. Para petani pun bisa merencanakan penanaman sejumlah tanaman dan panen dalam setahun.

Ada pula Ibn al-Haytham, lebih dikenal Alhazen, yang pada 1021 memperkenalkan bukunya yang berjudul Kitab Optik. Ia membahas soal pergantian masa. Salah satu penjelasannya mengenai senja yang ia yakini disebabkan oleh pembiasan atmosfer.

Alhazen juga menyatakan, senja baru akan mewujud saat matahari berada 19 derajat di bawah cakrawala. Ia pun menerbitkan kitab lainnya sebagai pelengkap Kitab Optik, yaitu Risalah fi l-Daw atau risalah tentang cahaya.

Dalam Risalah fi l-Daw, Alhazen memberikan penjelasan tentang meteorologi, pelangi, kepadatan atmosfer, dan berbagai fenomena langit lainnya, termasuk gerhana, matahari terbenam, dan cahaya bulan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sejumlah Temuan Para Tabib Muslim




Banyak naskah berserak yang mengungkapkan temuan sejumlah penyakit mental dan syaraf di masa Turki Ottoman.

Perkembangan ilmu pengetahuan terus melaju di masa Islam. Beragam temuan di berbagai bidang terungkap pula. Demikian pula yang terjadi di bidang kedokteran atau pengobatan. Pada masa Turki Ottoman, tabib Muslim menemukan sejumlah penyakit mental dan syaraf (neurologis).

Ada banyak naskah berserak mengenai penemuan jenis penyakit tersebut. Ada pula naskah yang hilang akibat penghancuran saat wilayah Islam diinvasi. Di sisi lain, terdapat naskah yang hancur karena ditelan masa. Namun, ada sejumlah naskah yang bisa terselamatkan.

Naskah yang mengungkap temuan-temuan itu dibuat antara abad ke-15 dan ke-18. Sejumlah penyakit mental dan syaraf yang dijelaskan dalam naskah itu, di antaranya ihtinak rahm (histeris) dan hafakan atau yurek oynamasi (kegelisahan ).

Di samping itu, ada pula beberapa penyakit suciye muptela olanlar (kecanduan alkohol), afyonkesler ve berse muptel olanlar (kecanduan opium), dan kecanduan tembakau yang sekarang orang yang mengalaminya sering disebut sebagai perokok akut.

Dalam naskah medis itu, terungkap pula penyakit yang disebut teza'zu-i dimag (cedera kepala traumatis). Hal ini bisa terjadi jika seseorang jatuh dari tempat yang tinggi, mendapat pukulan keras di kepala, dan jika kepala dipukul dengan keras berkali-kali saat berkelahi.

Penyakit mental yang disebutkan dalam naskah medis ini, termasuk dalam pembahasan penyakit kepala yang disebut dengan sersam. Secara etimologi ser itu berarti kepala dan sam berarti bengkak. Gejala utama penyakit sersam adalah kebingungan pikiran.

Gejala lainnya, mereka yang menderita penyakit itu, selalu berbicara melantur dan tak jelas, merasakan demam, dan tubuh gemetar. Ada jenis sersam lainnya yaitu feranitis. Penyakit ini merupakan pembengkakan pada selaput otak. Di dunia kedokteran modern disebut meningitis.

Tipe lain dari sersam adalah demevi verem (flegmoni) yang merupakan penyakit berupa peradangan pada otak. Penyakit itu, sering disebut ensefalitis. Beberapa gejalanya, antara lain, wajah dan mata pasien berubah menjadi merah, mata lebih menonjol, dan sakit kepala hebat.

Selain itu, pasien terus merasa terganggu, kejang-kejang, mudah mengantuk, dan muntah-muntah. Jenis terburuk dari sersam adalah subari yang dalam bahasa Turki disebut ifratla olan sersam-i tiz. Gejala utama subari adalah divanelik (kegilaan) dan asuftelik (kegelisahan).

Gejala lainnya, penderita tak dapat tidur dengan baik, mengalami mimpi buruk, lalu terbangun dalam keadaan ketakutan yang luar biasa, matanya kadang berubah menjadi merah darah, kadang-kadang bagian putih dari matanya menjadi kuning, gerakan matanya lambat, dan melantur.

Pada awalnya penderita subari merasa sangat gelisah, tetapi rasa gelisah itu kemudian menurun hingga dia hampir tidak dapat membuka matanya, mengalami demam tinggi, lidah bengkak, mulut kering, denyut nadi semula cepat dan kuat tetapi kemudian menjadi lemah dan lambat.

Napas penderita penyakit ini, semula kuat tetapi kemudian melemah, merasa seperti sakit di leher sehingga tampak pembuluh darahnya sedang tegang. Jenis terakhir sersam adalah soguk sersam (sersam dingin). Ini merupakan jenis sersam tanpa demam.

Dalam bahasa Arab-Turki, penyakit ini sering disebut nisyan dan unutsaguluk yang berarti kelupaan. Gejala utama dari sersam dingin adalah pelupa. Beberapa gejala khusus dari sersam dingin, antara lain, sakit kepala ringan tanpa disertai demam.

Selain itu, gejala lain yang menyerang penderita adalah perasaan mengantuk yang sangat kuat, mengalami lupa pada tingkat yang ekstrem, lambat dalam bergerak, denyut nadi perlahan-lahan dan ringan, sesak napas, sering menguap, dan memiliki air liur berlebihan.

Penderita penyakit ini, mengalami pula kebingungan dan tak mampu membedakan antara baik dan buruk. Penyakit ini seperti gejala penyakit demensia. Naskah medis tersebut, juga menjelaskan mengenai penyakit humre dan demregu, yang masuk kategori penyakit yang menyerang otak.

Tak ada penjelasan yang lengkap dan perinci apakah humre dan demregu termasuk dalam jenis sersam atau tidak. Namun, dalam kamus disebutkan bahwa humre adalah erysipelas (api luka) yang dalam bahasa Turki disebut yilancik, alazlama.

Sedangkan demregu merupakan penyakit yang disebut dengan tarama sozlugu atau penyakit lumut. Penyakit tersebut memiliki tiga gejala yang berbeda di antaranya, sakit kepala, merasakan kepanasan, merasakan kedinginan pada kulit wajah, dan warna mata kekuning-kuningan.

Lalu, dari waktu ke waktu wajah penderita memanas dan matanya menjadi merah. Penderita akan merasa demam dan gemetar. Bahkan, demam dan gemetar itu Jauh lebih hebat daripada penderita penyakit flegmoni. Sebagian besar dari mereka akhirnya meninggal dalam kurun tiga hari.

Jika mereka mampu menghadapi masa kritis dan sanggup bertahan selama tiga hari, mereka memiliki banyak harapan hidup. Penyakit tersebut kemungkinan menyebabkan komplikasi ketika dibiarkan tanpa pengobatan yang baik, efektif, dan teratur.

Melatih Para Calon Tabib

Perkembangan di bidang medis, tak terjadi begitu saja. Demikian pula dengan sejumlah penyakit yang berhasil diidentifikasi dan ditemukan para tabib Muslim di masa Turki Ottoman. Ada konsep dan metode yang memang diterapkan untuk melakukan pelatihan bagi mereka yang bergelut di bidang medis.

Selain para tabib, yang sering pula disebut sebagai ahli penyakit dalam, ada pula spesialis lainnya misalnya di bidang bedah, orthopedist, herbalis, dan mereka yang memiliki spesialisasi lainnya yang terkait dengan layanan kesehatan publik. Mereka mendapatkan pelatihan dan pendidikan dengan cara yang berbeda-beda.

Dokter atau tabib, memiliki posisi tertinggi dalam kelas pelatihan. Mereka biasanya mendapatkan pengajaran di sebuah madrasah dan dar al-shifa atau rumah sakit. Di rumah sakit Ottoman, seperti di Rumah Sakit Seljuk Kayseri (1205-6), mereka mendapatkan pelatihan baik dalam bentuk teori maupun praktik.

Seseorang yang ingin menjadi tabib disebut talib dan mereka yang menjadi siswa madrasah yang kelak menjadi tabib disebut shaqirdi tabib. Mereka mempelajari sejumlah kasus klinis di rumah sakit dan belajar tentang teori pengobatan di madrasah, juga membaca manuksrip medis di perpustakaan.

Untuk memberikan pelatihan yang baik, Pemerintah Ottoman melakukan sejumlah langkah. Di antaranya adalah membangun sejumlah rumah sakit baru. Salah satu rumah sakit yang dibangun untuk keperluan itu adalah RS Bursa (1399), yang merupakan bagian dari kompleks Sultan Yildirim, di mana para siswa kedokteran mendapat pelatihan di sana.

Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai dar al-tib atau sekolah kedokteran. Ada pula Rumah Sakit Fatih (1470) yang terletak di Istanbul. Mereka yang mengajar kedokteran disebut darsiam dan para siswa kedokteran disebut dengan tabib shaqirdi.

Sebuah sekolah kedokteran yang terpisah didirikan di Kompleks Suleymaniye (1556-7), di mana kedokteran menjadi sebuah disiplin ilmu yang independen. Para siswa kedokteran yang belajar di sekolah tersebut melakukan praktik kedokteran di rumah sakit yang ada di dekat sekolah tersebut.

Mereka tak hanya mendalami ilmu kedokteran tetapi juga mempelajari hukum Islam, filsafat, literatur, dan bahasa Arab. Bahkan, mereka juga mesti mampu menguasai beragam ilmu pengetahuan. Biasanya, selama pendidikan di madrasah mereka dibekali berbagai ilmu itu sebelum melakukan praktik di rumah sakit

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Teori Gempa di Masa Islam



Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.

Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat tulisan berjudul The Science of Winds in the Bowels of the Earth, which Produce Many Earthquakes and Cave-in.

Ibnu Sina, yang dikenal sebagai seorang ilmuwan dan dokter, juga menyampaikan pandangannya mengenai gempa bumi. Ia mengutip sejumlah ilmuwan Yunani yang mengaitkan gempa bumi dengan tekanan gas yang tersimpan di dalam bumi dan kemudian berusaha keluar dari bumi.

Namun, Ibnu Sina tak sepenuhnya sependapat dengan pandangan para ilmuwan Yunani tersebut. Jadi, ia menentang teori mereka dengan memberikan penjelasan dari pemikirannya sendiri dan mengembangkan teorinya sendiri.

Ibnu Sina mengungkapkan, gempa terkait dengan tekanan besar yang terperangkap dalam rongga udara yang ada di dalam bumi. Tekanan ini, bisa datang dari air yang masuk ke dalam rongga bumi dan menghacurkan sejumlah bagian bumi.

Dalam esai panjangnya, Ibnu Sina memberikan sebuah metode untuk mengatasi dampak gempa bumi. Ia menyarankan masyarakat untuk menggali dan membuat sumur di tanah, supaya tekanan gas menurun. Sehingga, getaran akibat gempa bumi berkurang.

Beberapa sejarawan mengatakan, setelah abad ke-10 dan ke-11 teori para ilmuwan Muslim tentang penyebab gempa lebih menekankan pada sisi religius. Mereka berpikir bahwa gempa merupakan fenomena alam yang telah ditetapkan Tuhan.

Namun, pendapat lain mengemuka, para ilmuwan Muslim mengadopsi filsafat logika dan fisik, untuk menjelaskan penyebab terjadinya gempa bumi sejak abad ke-10. Pendekatan itu, agak dihindari menjelang periode berakhirnya kekuasaan Mamluk.

Sejumlah ilmuwan lain dalam periode klasik Islam yang menulis tentang gempa bumi, antara lain, Al-Biruni, Ibnu Rusyd, Jabir bin Hayyan. Mereka membahas gempa bumi dalam buku yang mereka tulis dalam bidang meteorologi, geografi, dan geologi.

Pada masa-masa berikutnya, kajian ilmiah tentang gempa bumi terus dilakukan oleh ilmuwan Muslim. Abu Yahya Zakariya' ibn Muhammad al-Qazwini, ahli geografi, astrnomi, fisika, abad ke-12 asal Persia, menyampaikan teorinya mengenai gempa.

Menurut Al-Qazwini, gempa bumi disebabkan oleh adanya gas bertekanan tinggi sampai menjadi cairan, kemudian berusaha keluar dari dalam bumi sehingga proses ini, selain menyebabkan gempa juga gunung berapi.

Ilmuwan yang sezaman dengan Al-Qazwini, yaitu Al-Tifashi, menambahkan, penumpukan gas menyebabkan tekanan terhadap bumi dan akhirnya menimbulkan gempa. Ia berpendapat, tekanan gas yang sangat kuat menggerakkan kerak bumi.

Ada pula ilmuwan lain, Al-Nuwayri yang hidup sekitar tahun 1373, mengadopsi teori pseudo-fisik yang mengatakan setiap wilayah di bumi memiliki kaitan dengan pegunungan Qaf, yang mengelilingi bumi. Saat Tuhan ingin menghukum manusia, Dia menggerakkan kaitan itu.

Sementara, studi awal mengenai bagaimana bertahan dari gempa bumi, ditulis seorang ilmuwan Mesir, Jalaluddin Al-Suyuti, yang hidup sekitar tahun 1505. Ia tak mengikuti teori fisik tentang gempa bumi yang diadopsi Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Qazwini, maupun Al-Tifashi.

Sebaliknya, Al-Suyuti malah menerima teori pseudo-fisik gunung Qaf dan menceritakan bahwa gempa bumi dan bencana alam lainnya adalah hukuman dari Tuhan terhadap orang-orang berdosa. Dia kemudian membuat catatan 130 gempa bumi yang terjadi di berbagai wilayah Muslim.

Rupanya karya Al-Suyuti menginspirasi karya-karya orang lain untuk menuliskan gempa bumi. Muridnya, Al-Dawudi, menambahkan informasi tentang delapan gempa bumi yang terjadi di Kairo, Mesir. Murid lainnya, Abdulqadir Al-Syadzili, hidup pada 1528, melakukan hal sama.

Al-Syadzili menuliskan pengalamannya saat mengalami dua gempa bumi.
Lalu, ada Badr Al-Din Al-Ghazzi, yang pada 1576 memberikan informasi tentang tiga gempa bumi yang terjadi di Damaskus, Suriah. Najm Al-Din Al-Ghazzi menuliskan 12 gempa bumi di sejumlah tempat.

Menurut laman Muslimheritage, dari tinjauan catatan seismik di Arab, menujukkan adanya fenomena langit dan fenomena di permukaan bumi yang menyertai gempa bumi. Pada waktu itu terjadi gempa bumi yang disebabkan oleh sebuah komet atau meteor.

Pada tahun 1500 terjadi gempa bumi ringan di Kairo. Kala itu orang-orang melihat bintang-bintang di langit tercerai-berai. Pada tahun 1504 terlihat bintang jatuh di Yaman yang disertai dengan serpihan-serpihan materi bintang, lalu diikuti dengan terjadinya gempa bumi.

Pada tahun 1511 terdapat meteor yang terbang dari timur menuju ke utara dan itu diikuti oleh gempa bumi yang berlangsung selama tiga bulan di Kota Moza, Yaman. Sejumlah catatan pada masa itu juga menuliskan bahwa gerhana dan badai pun menyertai terjadinya gempa bumi.

Tak heran jika kemudian mereka menganggap indikasi akan datangnya gempa bumi jika ada meteor, gerhana, atau fenomena alam lainnya yang terjadi. Bahkan, astrologi juga terkadang ikut digunakan untuk memprediksi terjadinya gempa bumi.

Merespons gempa
Selain mengurai kajian tentang gempa bumi, ilmuwan Muslim juga menyampaikan pandangannya mengenai apa yang bisa dilakukan masyarakat dalam menghadapi gempa. Termasuk bagaimana mendirikan bangunan agar bisa tahan gempa.

Di daerah-daerah yang rawan gempa, arsitek-arsitek Muslim menyampaikan serangkaian teori. Mereka menegaskan, agar bagunan memiliki fondasi yang kuat dan dalam. Dinding juga harus memiliki dimensi besar untuk menyangga kubah ketika terjadi gempa.

Dengan demikian, bangunan tidak runtuh saat digoyang gempa. Ini terbukti dengan masih tegak berdirinya monumen-monumen Islam yang ada di Kairo. Bangunan-bangunan itu mampu bertahan dari gempa besar pada 1992 dan masa-masa sebelumnya.

Pada masa kekuasaan Islam, masyarakat bereaksi secara berbeda-beda saat menghadapi gempa. Sejumlah orang segera menuju masjid dan gereja untuk berdoa. Namun, sebagian orang lainnya bergegas menuju area terbuka, kemudian membangun tenda pengungsian.

Ini terjadi pada 1431, saat gempa melanda Granada dan juga sejumlah gempa yang terjadi di Levant. Pada 1504, saat Kota Zayla, Yaman, diguncang gempa, warganya pergi ke area terbuka, yaitu pantai. Di sejumlah wilayah rawan gempa, mereka membangun gubuk kayu.

Gubuk tersebut dibangun di disamping rumah mereka, yang biasanya digunakan untuk bermalam saat terjadi gempa. Sebagian lain menghabiskan malam di area terbuka atau perahu.

Saat Bencana Memantik Penyakit

Bencana alam, seperti gempa bumi, seringkali disertai dengan merebaknya wabah penyakit atau epidemik. Biasanya, kondisi ini dipicu oleh mayat yang tak segera dikuburkan atau kamp-kamp pengungsian di lokasi yang tak dapat dikatakan higienis.

Sejumlah ilmuwan Muslim juga menorehkan buah pemikirannya dalam karya-karya mereka, terkait dengan merebaknya epidemik ini. Sebut saja, Qusta Ibnu Luqa, hidup pada abad ke-9, yang menuliskan buku yang disebut Contagion atau infeksi.

Dalam karyanya itu, ia menggambarkan bagaimana penyakit menular
dari seseorang yang sakit ke orang yang sehat. Ibnu Luqa menyatakan bahwa proses tersebut dipengaruhi oleh udara sekitar dan infeksi. Ia menjelaskan pula tentang penyakit yang disebabkan oleh angin.

Biasanya, para pengungsi akibat bencana alam, juga diterpa angin kencang hingga membuat mereka menderita penyakit. Pada abad ke-10, ada ilmuwan lain yang menulis mengenai epidemik, yaitu Al-Tamimi. Ia memberikan sejumlah penjelasan.

Di antaranya adalah prosedur higienis untuk menghindari infeksi saat terjadi epidemik. Ia juga memberikan penjelasan bagaimana cara mengatasi penyakit yang dibawa oleh udara. Abu Sahl Al-Masihi juga memberikan kontribusi besar.

Al-Masihi hidup di masa yang sama dengan Al-Tamimi. Sejumlah kalangan menilai, buku karya Al-Masihi lebih perinci dibandingkan karya Al-Tamimi. Dalam manuskripnya sebanyak 19 halaman, ia mengelompokkan penyakit epidemik, penyebabnya, dan cara pengobatannya.

Karyanya, dibagi menjadi empat bagian di antaranya adalah bagaimana epidemik mengganggu tubuh manusia dan pencegahan serta pengobatan terhadap setiap jenis epidemik. Ia juga memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara epidemik (al-Waba) dan endemik.

Menurut Al-Masihi, ada tiga penyebab terjadinya epidemik, yaitu kelembaban dan kehangatan udara yang berlebihan, udara kering yang berlebihan, dan udara sedang berubah ke dalam sebuah kondisi yang abnormal.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Menyingkap Jam Air Ridhwan al-Sa'ati





Jam air Ridhwan al-Sa'ati merupakan warisan perangkat mekanik Muslim yang di dalamnya dibenamkan teknologi maju.
Berbagai upaya telah diupayakan untuk menemukan jawaban memuaskan. Ini tentang sebuah jam air yang ada di Masjid Ummayah, Damaskus, Suriah. Setiap jam, bunyi berdentang terdengar dari jam itu. Ternyata, jam ini sudah ada enam abad sebelum pembuatan Big Ben di London, Inggris, pada 1859.

Pada akhirnya, sejumlah manuskrip terkumpul. Selubung misteri jam tersebut pun ikut tersingkap. Manuskrip-manuskrip yang ada mengisahkan, jam itu diletakkan di pintu masuk sebelah timur Masjid Ummayah atau di sebelah kanan pintu keluar masjid yang berdekatan dengan istana pemerintah, Qasr al-Khadhra.

Pintu masuk sebelah timur itu dinamakan Bab al-Sa'at yang disebut pula sebagai Gerbang Jam. Ada pula nama lain yang disematkan pada pintu masuk itu, di antaranya Bab Jayrun dan Bab El-Labbadin. Keberadaan dan kerja jam air itu digambarkan oleh operator awal jam tersebut, Ridhwan.

Ini terungkap dalam sebuah manuskrip tahun 600 Hijriyah atau 1202 Masehi. Jam itu dinamai dengan nama sang operator tersebut, yaitu Ridhwan al-Sa'ati. Keberadaan jam itu merupakan salah satu warisan perangkat mekanik Muslim yang membenamkan teknologi maju di dalamnya.

Memang, pada jam ini, terdapat sejumlah keunikan dan kecanggihan teknologi. Jam ini menunjukkan pentingnya perkiraan waktu dan ditempatkan di lokasi yang strategis, antara istana pemerintah dan masjid. Jadi, jam ini berada di dekat pusat pemerintahan dan pusat kegiatan umat.

Keunikan lain yang melekat pada jam ini adalah kemampuannya menghubungkan kalender Hijriyah terkait perubahan musim dengan kondisi udara, menetapkan sudut sinar matahari, serta membagi waktu siang dan malam masing-masing selama 12 jam yang tak terpengaruh apakah lebih panjang atau pendek dalam sebuah tahun.

Tak hanya itu, jam ini juga memberitahukan khalayak mengenai pergantian waktu setiap jam dengan dentangan suaranya. Dengan keberadaan semua kemampuan pada jam tersebut, Ridhwan sebagai operator jam dianugerahi status tinggi sebagai seorang menteri dalam pemerintahan.

Di sisi lain, pemerintah juga mengalokasikan anggaran khusus untuk pemeliharaan dan keberlangsungan alat itu. Sejumlah pakar mengatakan, jam Ridhwan termasuk dalam kelompok perangkat waktu hidrolik yang terkenal pada masa lalu, seperti Clepsydra dan Ghati. Ini juga menunjukkan perkembangan konstruksi pembuatan jam dari waktu ke waktu.

Terutama, saat Khalifah Harun al-Rasyid pada 786 Masehi menghadiahkan jam air yang terbuat dari kayu kepada Charlemagne I yang merupakan raja kaum Frank di Barat. Diyakini pula, bentuk berbeda dari perangkat sejenis itu ada di wilayah lain di dunia Islam. Jadi, jam itu menyebar luas di wilayah Islam.

Menurut manuskrip Ridhwan al-Sa'ati; ayah Ridhwan, yaitu Abu 'Abdullah Muhammad bin Naser bin Saghir bin Khalid al-Kaysarani, merupakan orang pertama yang mengoperasikan jam tersebut. Ini terjadi sebelum Sultan Nur Ed-Din Mahmud bin Zanki mengambil alih Damaskus pada 1154 Masehi.

Kaysarani sendiri merupakan seorang terpelajar yang ahli dalam puisi, astronomi, teknik, dan matematika. Setelah dia, ada Muhammad bin Ali al-Khurasani yang merekonstruksi jam itu setelah terbakar pada 1166. Ridhwan al-Sa'ati menyebutkan pula tiga orang yang mengoperasikan jam itu setelah kematian ayahnya.

Mereka adalah al-Muhadhab bin al-Naqqash, al-Muhadhab bin al-Hajib, dan Abu al-Fadhl al-Najjar. Kemudian, Ridhwan yang akhirnya mengoperasikan jam itu. Ridhwan dikenal sebagai Fakhr al-Din Ridhwan al-Sa'ati al-Khurasani al-Dimashqi. Dia menjabat sebagai menteri pada masa Raja Isa bin al-Malik.

Isa menugaskan pula pemberian anggaran khusus untuk pemeliharaan dan pengoperasian jam itu. Di sisi lain, keberadaan jam itu juga sangat terkenal. Sejumlah pelancong menggambarkannya. Ada Rabbi Benjamin dari Tuleda yang mengunjungi Damaskus antara 1159 dan 1174. Menurut dia, Damaskus memiliki sebuah sinagog pengikut Muhammad.

Benjamin menyatakan, itu pasti istana Ibnu Haddad. Salah satu dindingnya dibangun dengan kekuatan ajaib. Pada dinding bangunan itu terdapat sebuah perangkat yang disinari matahari dan tertera jumlah hari dari tahun matahari. Perangkat itu terbagi dalam dua belas tingkat untuk menyesuaikan waktu dalam sehari.

Ini merupakan gambaran jam matahari, yang dianggap terletak di dekat masjid tersebut, tak sesuai dengan gambaran jam yang dilakukan oleh Ridhwan dan dua pelancong lainnya, yaitu Ibnu Jubayr dan Ibnu Battuta. Menurut laman Muslimheritage, gambaran Rabbi Benjamin itu secara salah dikutip Donald R Hill dalam bukunya Arabic Water Clocks.

Ibnu Jubayr menceritakan pula jam air ini saat ia melakukan perjalanan dan tinggal di Damaskus pada 1184. Gambaran dia tentang jam itu sangat mendekati apa yang diungkapkan dalam manuskrip Ridhwan al-Sa'ati. Gambaran yang dibuat Ibnu Battuta pada 1326 mendekati gambaran Ibnu Jubayr, namun lebih ringkas.

Berdasarkan survei dan analisis terhadap semua literatur tentang jam Ridhwan, terungkap bahwa seorang insinyur dari Mesir bernama Abdullah Baylak al-Qabagaqi merupakan orang yang paling mengerti jam air itu. Sebab, dia bersentuhan langsung dengan perangkat bersangkutan. Selain itu, catatannya dimasukkan dalam salinan naskah asli Ridhwan.

Sebab, dia langsung bersentuhan dengan perangkat waktu tersebut dan juga karena catatannya dimasukkan dalam salinan naskah asli Ridhwan. Pada awal abad kedua puluh, seorang ahli fisika dan sejarah Jerman, yaitu Eilard Wiedemann dan Fritz Hauser, mempelajari perangkat jam air itu.

Mereka bahkan mencapai tingkat pemahaman yang tinggi atas cara kerja jam tersebut. Lalu, mereka menerbitkan hasil penelitiannya pada 1915 dalam beberapa artikel. Meski karya mereka dianggap sebagai karya perintis, mereka melahirkan konsepsi tidak lengkap soal jam air itu. Sejumlah kesalahan pun muncul dari penjelasan mereka.

Seorang penulis, Syekh Muhammad Ahmad Dahman, pernah mengedit naskah Ridhwan dan menggunakan teks tersebut untuk memahami jam air. Ia menganggap teks asli Ridhwan cukup jelas untuk membantu dalam merekonstruksi jam air tersebut. Namun, dia tidak menambahkan komentar untuk menjelaskan operasi dan konstruksi dari jam air tersebut.

Paling tidak, ada tiga manuskrip yang mengungkap keberadaan jam itu. Pertama, manuskrip asli yang didiktekan oleh Ridhwan sendiri dan sekarang ada di perpustakaan Forschungsbibliothek di Gotha, Jerman. Kedua adalah salinan yang ditulis Baylak Abdullah al-Qabagaqi. Naskah ini ada 5-6 tahun setelah keberadaan manuskrip asli.

Manuskrip itu disimpan di Istanbul, Turki. Sedangkan, manuskrip ketiga merupakan salinan naskah al-Qabagaqi. Kini, naskah itu ada di Kairo, Mesir.

Merujuk pada Al-Jazari

Jam air dikenal sejak sebelum masehi. Di dunia Islam, Al-Jazari, dikenal sebagai perintis jam air. Namun, ia bukan satu-satunya ilmuwan Muslim yang menciptakan jam air. Asa ilmuwan lainnya yang bernama Ibnu al-Haytam yang membuat jam sejenis pada 1000 Masehi.

Muncul pula nama Al-Zarqali. Ia menciptakan dua jam air besar yang berada di tepi Sungai Tagus di Toledo. Meski demikian, jam air yang paling monumental diciptakan oleh seorang insinyur besar Muslim, Al-Jazari.

Kehebatan Al-Jazari di bidang teknik, sangat dikenal di dunia Islam. Ia bahkan membuat beberapa jenis jam air. Salah satunya, sebuah jam bertenaga air yang tingginya satu meter dan lebarnya satu setengah meter. Jam tersebut berhasil direkonstruksi ulang pada 1976.

Jam air karya Al-Jazari yang sangat terkenal adalah jam berbentuk gajah. Jam itu bisa menghasilkan suara. Dalam sebuah naskah karya Al-Jazari, jam itu merupakan jam paling awal yang memakai flow regulator, sebuah sistem tutup-lubang.

Para ilmuwan modern banyak yang mengakui kehebatan Al-jazari dalam membuat jam air, yang pada masa itu jam merupakan barang istimewa. Rancangan jam air buatan Al-Jazari penuh dengan ide-ide dan teknik-teknik yang penting bagi sejarah desain mesin jam.

Al-Jazari dikenal sebagai ilmuwan yang lebih tertarik pada pengembangan perangkat yang memiliki nilai pakai. Tak heran jika ia melakukan serangkaian percobaan untuk membuat perangkat-perangkat teknik.

Sementara itu, deskripsi paling awal mengenai jam air dalam bahasa Arab terdapat dalam risalah mesin karya Al-Muradi, yang bekerja di Spanyol pada abad ke-11

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Masjid Cheng Hoo, Sarat Pesan Kedamaian




Melihat bentuk Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya dari kejauhan, sekilas tidak tampak seperti bangunan masjid di Indonesia pada umumnya. Selain tidak ada kubah dan menara sebagaimana masjid-masjid lainnnya, bentuk masjid ini juga lebih mirip bangunan kelenteng (tempat ibadah umat Budha). Masjid Cheng Hoo memang unik, dan antik.

Masjid Cheng Hoo selain untuk tempat ibadah, sejak awal pendiriannya diharapkan bisa menjadi simbol kerukunan dan perdamaian umat Islam, terutama bagi warga muslim etnik Tionghoa. Tidak aneh bilamasjid ini bentuk maupun arsitekturnya kental dengan nuansa budaya Tiongkok. "Masjid ini memang berdiri atas prakarsa teman-teman anggota Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), yang sebelumnya sudah membentuk Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo," ujar Ketua Takmir Masjid Cheng Hoo, Ustadz Hariyono Ong kepada Republika.

Masjid Muhammad Cheng Hoo digagas HMY Bambang Sujianto, Ketua yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo dan para anggota Pembina Iman Tauhid Islam -- Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Masjid ini mulai dibangun 15 Mei 2001 dengan dana awal Rp 500 juta. Dana ini berasal dari hasil menerbitkan buku 'Saudara Baru/Jus Amma' dalam tiga bahasa. Masjid Cheng Hoo selesai dibangun dan diresmikan bertepatan dengan ulang tahun PITI yang ke 42 pada 28 Mei 2003. Masjid yang diresmikan oleh Menteri Agama RI, Pro Dr Said Agil Husain Al-Munawar ini menghabiskan biaya total Rp3,3 miliar.

Menurut ustadz Hariyono Ong, rancangan awal Masjid Cheng Hoo Indonesia diilhami dai bentuk masjid Niu Jie di Beijing, Cina, yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Pengembangan desain arsitekrurnya dilakukan oleh Ir Azis Johan (anggota PITI asal Bojonegoro) serta didukung tim teknis, HS willy Pangestu, Donny Asalim SH, Ir Tony Bagyo, dan Ir Rahmat Kurnia.

Masjid Muhammad Cheng Hoo dikenal sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama muslim Tionghoa, dengan bangunan bernuansa etnik dan antik cukup menonjol dibandigkan bentuk masjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Dengan arsitektur khas Tiongkok yang didominasi warna hijau, merah dan kuning, menambah khasanah budaya Indonesia.

Masjid Cheng Hoo berdiri di atas areal tanah keseluruhan seluas 3.070 meter persegi. Untuk ukuran sebuah masjid jami', bangunan masjid Cheng Hoo tidak terlalu besar. Secara keseluruhan masjid Cheng Hoo berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama berukuran 11 x 9 meter. Masjid ini memiliki keunikan bentuk bangunannya yang mirip bangunan Kelenteng. Pada sisi kiri kanan bangunan utama terdapat bangunan pendukung yang tempatnya lebih rendah dari bangunan utama. Sehingga bangunan masjid tampak melebar, tidak memanjang atau persegi empat seperti bangunan masjid di Indonesia umumnya.

Arsitektur bangunan masjid Cheng Hoo memang tidak terlalu menonjol dan istimewa, kecuali pada bentuk bengunannya yang unik, menyerupai bangunan Kelenteng. Seleruh bahan bangunan juga tidak ada yang diimpor, tepi menggunakan bahan bangunan lokal.

Sejak awal pemabangunannya, kata ustadz Hariyono Ong, masjid ini memang lebih menekankan pada pesan atau misi yang diemban. Selain sebagai tempat ibadah, masjid Chneg Hoo diharapkan menjadi simbol kerukunan dan kedamaian. Karena itu pula, setiap ukuran dan bentuk elemen bangunan memiliki makna dan filosofi sendiri.

Ukuran bangunan utama, misalnya. Panjang 11 meter pada bangunan ini merujuk pada lebar bangunan Ka'bah. Pada saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS, Ka'bah memiliki panjang 11 meter. Sedangkan lebar 9 meter pada bangunan utama, ini diambil dari keberadaan Wali Songo dalam melaksanakan syi'ar Islam di tanah Jawa.

Arsitekturnya yang menyerupai kelenteng, kata Hariyono Ong, itu adalah gagasan untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslim Tionghoa (Islam Tiongkok) di Indonesia dan untuk mengenang leluhur warga Tionghoa yang mayoritas beragama Budha.

Pada bagian atas bangunan utama, juga merupakan ciri hkas arsitektur Tiongkok, yakni atap bersusun tiga dan berbentuk segi delapan (pat kwa). Angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut Fat, yang berarti jaya atau keberuntungan. "Ini juga memiliki makna dan filosofi sendiri," kata ustad Hariyono Ong.

Kejayaan dan keberuntungan itu, merujuk pada risalah saat Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, nabi dikejar-kejar oleh kaum kafir Qurais dan bersembunyi dalam goa Tsur. Pada saat hendak memasuki goa tersebut, terdapat rumah laba-laba yang berbentuk sperti segi 8. Namun, Rasulullah yang dalam keadaan teraniaya tidak mau merusak sarang laba-laba itu.

Beliau memohon kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari kejaran kaum Qurais. Dengan pertolongan Allah SWT, Rasulullah dapat memasuki goa Tsur tanpa merusak rumah laba-laba tersebut. Saat situasi sudah aman, beliau keluar dari goa Tsur dan melanjutkan perjalanan menuju Madinah untuk berhijrah. Ketika berada dalam goa Tsur, Allah memberikan perlindungan (keberuntungan) untuk dapat melalui rumah laba-laba dengan damai tanpa harus merusak dan mengganggu makhluk lainnya.

"Ini menunjukkan bahwa agama Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW merupakan agama yang cinta damai," tegas Haiyono Ong.

Pesan cinta damai dan kerukunan itu juga terwakil pada bentuk bangunan ruang imam. Ruangan yang dipergunakan oleh imam untuk memimpin sholat dan khotbah ini sengaja didesain seperti pintu gereja. Ini menunjukkan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberdaan Nabi Isa AS sebagai utusan Allah yang menerima Kitab Injil bagi umat Nasrani. Makna sesungguhnya, Islam mencinai hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan orang lain.

Sebagai penghormatan kepada diplomat muslim Tiongkok, yang dikenal dengan diplomasi silaturahim-nya, pada sisi kanan masjid terdapat relief perjalanan muhibah Laksamana Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapalnya yang dipergunakan mengarungi Samudera Hindia. Relief ini memiliki pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia khususnya, agar tidak risih dan sombong sebagai orang Islam.

Sebab, menurut ustad Hariyono Ong, orang Tionghoa masuk Islam bukan merupakan hal yang luar biasa. Akan tetapi, itu merupakan hal yang biasa karena pada 600 tahun lalu, sudah ada seorang laksamana beragama Islam yang taat bernama Muhammad Cheng Hoo. Sang Laksamana utusan Raja Dinasti Ming ini telah turut mensyi'arkan agama Islam di tanah Indonesia pada jaman itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Abu'l-Barakat al-Baghdadi, Ilmuwan Besar dari Baghdad



Kitab al-Mu'tabar menjadi karya fenomenal Barakat yang berisi esai-esai tentang filsafat dan sains.

Abu'l-Barakat al-Baghdadi dikenal sebagai seorang dokter dan filsuf. Ia dikenal pula sebagai seorang saintis. Nama lengkapnya, Hibat-Allah ibn Ali ibn Malka Abu'l-Barakat al-Baghdadi. Ia pun memiliki nama julukan, Awhad al-Zaman atau orang ternama pada zamannya.

Julukan ini diyakini terkait dengan profesi Barakat sebagai seorang dokter. Sebab, ia merupakan dokternya para khalifah Baghdad, tempat ia tinggal. Ia juga dokter langganan para sultan dari Dinasti Seljuk. Selain melakukan praktik kedokteran, ia juga mengajar tentang kedokteran.

Barakat memiliki sejumlah murid kedokteran. Ia tak hanya dikenal dengan julukannya Awhad al-Zaman, tapi juga memiliki reputasi luas karena karya fenomenalnya yang berjudul Al Kitab al Mu'tabar.

Karya ini berisi esai-esai Barakat tentang filsafat. Dalam esainya itu, ia menguraikan konsep-konsep dasar tentang filsafat alam dengan analisis yang tajam. Kitab ini disusun saat ia mencapai usianya yang matang.

Kitab al-Mu'tabar berisi refleksi-refleksi filosofis Barakat yang dilakukannya dari waktu ke waktu. Terutama, mengenai logika, fisika, ilmu pengetahuan alam, dan metafisika. Ia mengutip pula Kitab al-Shifa yang ditulis cendekiawan Muslim ternama, Ibnu Sina.

Bahkan, dalam beberapa bagian bukunya, Barakat mengutip sepenuhnya kalimat Ibnu Sina. Namun, ia pun menyanggah pemikiran Ibnu Sina dan menguraikan alasan tak sependapat pemikirannya dengan Ibnu Sina tersebut.

Barakat mengenalkan ide-ide alternatif yang menarik. Dan, ide tersebut mengantarkan gaungnya pada perkembangan fisika modern. Seperti, idenya mengenai gerak dan konsep tentang waktu. Pada 1938, seorang ilmuwan, Shlomo Pines, menaruh perhatian besar pada ide inovatif Barakat itu.

Pemikiran Barakat tentang gerak, di antaranya mengenai gerakan proyektil, yang memiliki kaitan dengan perkembangan teknologi pada beberapa abad kemudian. Ini bermula dari perbincangan mengenai bubuk mesiu yang ditemukan di Cina.

Bubuk mesiu tersebut menjadi sangat populer dalam perang Eropa pada abad ke-15. Bubuk ini digunakan pihak-pihak yang bertikai dalam peperangan untuk mendorong proyektil besar, guna menghantam tembok-tembok pertahanan kota yang mereka serang.

Pada pertengahan abad ke-16, para pakar senjata di Eropa mulai mencari cara lain untuk meningkatkan daya jangkau kekuatan artileri mereka. Ada sisi lain dari perkembangan itu yang menjadi sebuah polemik dalam bidang sains.

Sebab, ternyata gerak proyektil yang didorong bubuk mesiu itu tak sesuai dengan konteks doktrin gerak yang diusung oleh Aristoteles. Dalam konteks ini, berdasarkan hukum gerak Aristoteles mestinya proyektil yang dilontarkan jatuh langsung ke tanah.

Pada kenyataannya, proyektil itu justru tak langsung jatuh ke tanah saat terlontar dari selongsong meriam. Sebaliknya, benda tersebut bergerak mengikuti sebuah lintasan melengkung. Bahkan, para pendukung Aristoteles yang paling setia pun melihat cacat doktrin itu.

Kritik terhadap konsep gerak yang diusung Aristoteles, sebenarnya bermunculan sebelum abad ke-15. Banyak cendekiawan termasuk cendekiawan Muslim melontarkan kritik terhadap doktrin gerak Aristoteles.

Misalnya, Joannes Philoponus yang lebih dikenal sebagai John the Grammarian. Kritik itu lalu dikembangkan lebih jauh oleh cendekiawan Muslim Ibnu Sina, Barakat, dan Ibnu Bajja dari Andalusia pada abad ke-12.

Dalam konteks ini, Barakat menyatakan ada tenaga dorong dari meriam untuk melontarkan proyektil. Hingga proyektil itu terdorong dan mencapai jarak tertentu. Bukan seperti yang dilontarkan oleh Aristoteles bahwa proyektil akan langsung jatuh ke bumi.

Hal itu tak akan terjadi, kata Aristoteles, jika ada penggerak yang berhubungan dengan objek yang sedang bergerak. Saat penggerak tak ada, objek itu akan langsung jatuh ke bumi. Pada kenyataannya, proyektil itu tak langsung jatuh, tapi bergerak meniti garis lengkung.

Konsep yang diajukan oleh Barakat dan Ibnu Sina mengenai gerakan proyektil ini, kemudian menjadi acuan pula bagi pengembangan konsep dorongan dan momentum. Terutama, pada pemikiran yang dikembangkan Galileo Galilei pada abad ke-17.

Pemikiran lain Barakat adalah mengenai akselerasi atau percepatan. Ia mengatakan, percepatan gerak benda jatuh disebabkan adanya gaya gravitasi yang menghasilkan kecenderungan alami benda tersebut untuk jatuh.

Konsep pemikiran Barakat digunakan untuk mengantisipasi hukum dasar mekanika klasik. Ia juga menjelaskan, percepatan yang dialami benda berat yang jatuh merupakan kecenderungan alami. Pemikiran dia ini mendorong lahirnya hukum dasar dinamika modern.

Paling tidak melalui pemikiran-pemikiran itu, Barakat telah menyumbangkan banyak ide baru mengenai fisika yang berkaitan dengan gerak. Selain mengemukakan hukum percepatan, dia juga menyatakan gerak itu relatif.

Dalam Kitab al-Mu'tabar, Barakat memberi perhatian atas kondisi yang saling memengaruhi antara kata-kata dan konsep. Misalnya, ia mengembangkan teori inovatifnya tentang waktu. Ini terlontar setelah ia menemukan sebuah kesimpulan.

Menurut Barakat, kata waktu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari merupakan sebuah konsep fundamental. Ia mengatakan, waktu merupakan sebuah entitas. Ia menegaskan pula bahwa waktu adalah ukuran sesuatu yang terjadi bukan ukuran gerak seperti kata Aristoteles.

Barakat memiliki pula kontribusi pemikiran dalam bidang psikologi. Ia membahas tentang kesadaran diri. Hal ini pernah pula diangkat oleh Ibnu Sina, terutama yang berkaitan dengan kegiatan ini. Namun, Barakat melakukan kajian lebih dalam.

Kehidupan Barakat
Barakat hidup di abad ke-11 hingga abad ke-12. Ia lahir di Balad, sebuah kota di wilayah Tigris, dekat Mosul, Irak. Ia dilahirkan di sebuah keluarga Yahudi. Laman Muslimheritage dan Wikipedia, mengungkapkan, akhirnya Barakat memutuskan untuk memeluk Islam.

Saat menjalani profesinya sebagai seorang dokter, Barakat memiliki saingan berat, yaitu seorang dokter Kristen bernama Ibn al-Tilmidh. Di sisi lain, ia pun memiliki teman karib bernama Ishaq bin Ibrahim bin Erza yang menulis sebuah buku berisi kata-kata sanjungan terhadapnya.

Ibn Abi-Usyabi'a in juga menulis sebuah karya yang berisi sejumlah anekdot dan ungkapan, serta daftar sejumlah karya Barakat dalam bidang kedokteran. Ini dianggap sebagai sebuah karya biografi tentang Barakat yang lengkap.


Setumpuk Karya Barakat

Harus diakui, karya fenomenal Abu'l-Barakat al-Baghdadi adalah Kitab al-Mu'tabar. Karya ini berisikan beragam pemikiran Barakat dalam sejumlah bidang, terutama filsafat dan sains. Namun, ada sejumlah karya lain yang ditulis Barakat.

Di antaranya adalah karya dalam bidang kedokteran. Barakat memang dikenal pula sebagai seorang dokter. Karyanya dalam bidang kedokteran adalah risalah mengenai farmakologi yang berjudul Sifat Barsha'tha, dan berisi resep obat-obatan dari India.

Terdapat tiga salinan karya tersebut yang tersimpan di perpustakaan Turki. Selain itu, ada risalah lain tentang farmakologi yang ditulis oleh Barakat, yaitu risalah yang ia beri judul Tiryaq Amir al-Arwah.

Salinan karya tersebut tersimpan di Perpustakaan Kitapsaraydi Manisa, Turki. Ada pula risalah lain mengenai pemikiran intelektual yang berjudul Maqala fi'l-'Aql. Karya tersebut disimpan di perpustakaan di Iran dan Leipzig, Jerman.

Ada pula risalah Barakat yang diberi judul Risala fi Sabab Zuhur al-Kawa-kib Laylan wa Khafa'iha Naharan. Dalam risalahnya ini, ia menjelaskan mengapa bintang bisa terlihat di langit pada malam hari. Karya ini ditulis untuk menjawab pertanyaan Sultan Muhammad Tapar.

Manuskrip tentang karyanya itu disimpan di perpustakaan di Berlin, Jerman, dan Hiderabad, Pakistan. Juga, ada risalah mengenai kajian astronomi soal piring universal. Risalah ini berjudul Risala fi al-Amal bi al-Safiha al-Afaqiyyah.

Naskah risalah itu tersimpan di perpustakaan di Nidge, Turki.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tlemcen, Potret Ibukota Kebudayaan Islam



Berada di ketinggian 850 meter dari permukaan air laut, kota Tlemcen di wilayah barat Aljazair memiliki peran penting dalam perkembangan budaya Islam. Konferensi para menteri kebudayaan negara Islam di Baku, Azerbaijan 2009, telah menetapkan kota tersebut sebagai ibukota kebudayaan Islam tahun 2011. Komunitas institusi kebudayaan negara-negara Islam itu bernama Islamic Educational, Scientific and Cultural Organisation (Isesco).

Bukan tergolong kota besar, Tlemcen memiliki sejarah panjang dalam proses peradaban Islam. Kota ini tidak diketahui persis kapan berdirinya. Sejarah mencatat, pada masa-masa sebelum masehi, kota ini dihuni oleh bangsa Numidia dengan rezim Berber yang dipimpin Raja Syfax. Mulai tahun 32 masehi hingga tahun 430 masehi, datanglah bangsa Romawi, Vandal, dan Bizantium.

Sedangkan pengaruh Islam mulai datang ke Tlencem pada abad ketujuh yakni tahun 671 masehi dengan datangnya bangsa Arab. Kemudian pada tahun 790 masehi, dinasti Idrissides dari Fes (sekarang di Maroko) menduduki kota tersebut. Dari dinasti Idrissides, wilayah tersebut jatuh ke tangan Youcef Ibn Tachfine dan anaknya Ali bin Youcef. Periode ini disebut dengan Almoravide.

Selanjutnya, pembangunan perdaban Islam di Tlemcen diteruskan oleh Abdelmoumene Ben Ali mulai tahun 1143. Periode ini dikenal dengan sebutan periode Almohad. Bukan hanya peradaban Islam yang dikembangkan, pada periode ini, Abdelmoumene juga mendorong pertumbuhan ekonomi di Tlemcen.

Perubahan yang sangat pesat wilayah tersebut pun terus terjadi. Kondisi ini terlihat mulai abad ke-13 hingga abad ke-16. Saat itu, dinasti yang menguasai Tlemcen adalah dinasti Zianides yang didirikan oleh Yagmorachen. Kekuasaan atas Tlemcen kemudian diteruskan oleh Abu Zain Othmane, Abou Ziane I, dan Abou Tachfine. Dalam masa ini, pengelolaan kota Tlemcen berlangsung lebih modern.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Gaji Para Cendekiawan

GAJI PARA CENDEKIAWAN (Cendekiawan yang memiliki beragam ilmu memperoleh imbalan dari sejumlah sumber)

Layaknya masa sekarang, sistem pembayaran kepada para professional berlaku pada masa pemerintahan islam. Sistem ini, tak sekadar imbalan atas jabatan atau profesi seseorang. Namun, juga sebagai penghargaan ilmu atau profesionalisme yang dimiliki seseorang.
Jabatan sebagia guru, dokter, maupun pejabat pemerintahan membuat seseorang memiliki gaji dan status social yang tinggi. Apalagi, mereka yang memiliki sejumlah kedudukan di beragam profesi yang ia geluti, tak heran, jika seseorang memiliki harta yang berlimpah melalui penghasilannya.
Pada masa kekhalifan di dunia Islam, para guru besar di lembaga pedidikan tinggi rata – rata mendapatkan gaji sekitar 10 dinar perbulan. Mereka mendapatkan gaji dari lembaga pendidikan yang berasal dari sunbangan par adermawan, penyewaan gedung, dan hasil panen.
Namun, berbeda dengan para guru besar fikih. Gaji yang ia terima bisa lebih besar dibandingkan guru besar lainnya. Sebab, ada guru besar fikih yang memiliki jabatan di tempat lainnya. Misalnya, ia menjabat sebagai hakim dipengadilan.
Bahkan, jika tempat mengajarnya di tempat penguasa, sang guru besar tersebut bisa sekaligus menjadi pengajar privat bagi anak – anak penguasa tersebut. Pun, bisa menjabat sebagai sekretaris atau pendamping penguasa.
Pendapatan yang paling besar diperoleh mereka yang selain memiliki mereka yang selain memiliki keahlian di bidang sastra juga berprofesi sebagai seorang ahli dokter. Ada sejumlah istilah yang merujuk gaji atau pendapatan bulanan, antara lain. Jirayah, jamikiyah, ratib, dab rizq.
George A. Makdisi dalam bukunya, Cita Humanisme Islam, menjelaskan, seorang penulis pernah mengungkapkan perjalanan karier seorang perdana menteri pada abad ke-10, bernama Abu Ja’far ibn Sirzd. Apda permulaan kariernya, ia di tawari gaji sebesar 10 dinar per bulan.
Tawaran ini diberikan ayahnya yang saat itu menjadi seorang kepala kantor. Namun, Abu Ja’far menolaknya, lalu ia melamar di Departemen Kekayaan Negara (Dhiwan al Dhiya). Ia diterima di tempat tersebut sebagai pegawai magang bidang akuntansi dengan gaji 20 dinar per bulan.
Ada seorang ahli bahasa, Hisyam ibn Mu’awiyah, meninggal pada 824 Masehi, mendapatkan gaji bulanan sebesar 10 dianr per bulan. Ini merupakan imbalan sebagai pengajar seorang anak dari seorang pejabat pemerintah.
Sedangkan, Ibn al-A’rabi yang merupakan murid at-Kisai mendapatkan gaji per bulan sebesar 1000 dirham atau 65 dianr. Bahkan, terungkap bahwa Pangeran Dinasti Tahiriyah, Muhammad ibn Abdullah, membayar Tsalab, seorang guru di lingkungan istana, sebesar 1000 dirham per bulan.
Kekayaan Tsalab berlimpah. Sebab, saat ia meninggal dunia, harta kekayaannya mencapai 12 ribu dinar. Di antara kekayaan tersebut berupa 3000 unit toko. Apalagi, Tsalab juga memiliki seorang murid yang memiliki harta warisan.
Tak heran, jika Al-Zajjaj mendapatkan hingga 300 dianr. Di sisi lain, seorang dokter mendapatkan bayaran tinggi. Misalnya, ada seorang doktre Kristen di masa kekuasaan Islam, Ibn Tilmidz, memiliki pendapatan tahunan yang jumlahnya lebih dari 20 ribu dinar.
Ada pula kisah tentang Muhadzdzab al-Din Ibn al Naqqasy. Ia merupakan seorang dokter dari Baghdad, Irak, pada abad ke-11. Ia pernah pergi ke kota Damaskus untuk mencari pekerjaan. Sayangnya, ia belum berhasil mendaptkan pekerjaan yang di harapkannya.
Al Naqqasy kemudian memutuskan utnuk bergegas ke Mesir yangsat itu di bawah kekuasaan Dinasti Fatimayah. Ia menemui seorang dokter kepala di Istana dan mengutarakan maksudnya. Gayung pun bersambut, ia mendapatkan pekerjaan di sana.
Lalu Al Naqqasy mendapatkan imbalan tiap bulan sebanyak 15 dinar. Ia pun mendapatkan apartemen lengkap dengan perabotannya, seperangkat pakaian mewah, dan seekor keledai terbaik. Di sisi lain, ia pun mendapatkan seorang budak.
Para cendekiawan yang menguasai sejumlah bidang humaniora, juga memiliki penghasilan dari keahliannya itu. Pada masa Khalifah Al Ma’mun, di tetapkan penggajian bagi cendekiawan di bidang humaniora. Di antaranya, imbalan atas penulisan atau penrjemahan sebuah karya.
Penerjemahan sebuah karya dari bahasa Yunani ke bahasa Arab, yang di lakukan seorang dokter bernama Hunayn Ibn Ishaq, Khalifah Al’mamun membayarnya dengan emas yang di dasarkan pada bobot dari buku tersebut.
Saat itu, Hunayn menggunakan kertas tebal untuk menuliskan terjemahannya. Sehingga, bobot buku terjemahan itu sangat berat dan ia mendapatkan pembayaran emas sangat banyak. Ia menjadi seorang karya raya dari imbalan atas jasa penerjemahannya itu.
Tak hanya gaji, ada pula bonus, hadiah, maupun honorarium yang di peroleh para cendekiawan Muslim tersebut. Seorang ahli Nahwu, Al ahmar, memperoleh honorarium yang besar dari bekas muridnya, yang bernama Al amin.
Al ahmar mengatakan pada suatu hari Ia duduk sebentar dengan Al amin. Muridnya yang kaya itu, memberinya sekantong uang berisi 3000 dirham. Menurut dia, setelah mendapatkan uang itu seketika ia menjadi orang kaya dan memutuskan untuk cuti dalam kurun beberapa saat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS